pengembangan kurikulum

faktor-faktor atau komponen yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan pendidikan islam
internal, maupun eksternal, internal kurikulum meliputi: tujuan, bahan ajar, strategi mengajar, media mengajar, evaluasi pengajaran, penyempurnaan pengajaran. eksternal meliputi lndasan-landasan kurikulum, yaitu filsafat, kemasyarakatan, kebudayaan, psikologi belajar, pertumbuhan dan perkembangan siswa, serta organisasi kurikulum. 
Tipologi perenial-esensialis salafi, lebih menonjolkan wawasan kependidikan Islam era salaf, sehingga pendidikan Islam berfungsi sebagai upaya melestarikan dan mempertahankan nilai-nilai (Ilahiyah dan insaniyah), kebiasaan dan tradisi masyarakat salaf (era kenabian dan sahabat), karena mereka dipandang sebagai masyarakat yang ideal.[1]
Sementara itu, tipologi perenial-esensialis mazhabi lebih menonjolkan wawasan kependidikan Islam yang tradisional dan kecenderungan untuk mengikuti aliran, pemahaman atau doktrin, serta pola-pola pemikiran sebelumnya yang dianggap sudah relative mapan. Pendidikan Islam berfungsi untuk melestarikan dan mempertahankannya serta mengembangkannya melalui upaya-upaya pemberian syarh dan hasiyah, serta kurang ada keberanian untuk mengubah subtansi materi pemikiran pendahulunya. Dengan kata lain pendidikan Islam lebih berfungsi sebagai upaya mempertahankan dan mewariskan nilai, tradisi dan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa mempertimbangkan relevansi dengan konterks prkembangan zaman dan era kontemporer yang dihadapinya.[2]
Tipologi modernis lebih menonjolkan wawasan keendidikan Islam yang bebas modifkatif, progresif dan dinamis dalam menghadapi dan merespon tuntutan dan kebutuhan dari lingkungannya, sehingga, pendidikan Islam berfungsi sebagai upaya melakukan rekonstruksi pengalaman yang terus menerus, agardapat berbuat sesuatu yang intelegent dan mampu mengadakan penyesuaian dan penyesuaian kembali sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan dari lingkungan pada masa sekarang.[3]
Tipologi perenial-esensialis kontekstual-falsifikatif mengambil jalan tengah antara kembali ke masa lalu dengan jalan melakukan kontekstualisasi serta uji falsifikasi dan mengembangkan wawasan-wawasan kependidikan Islam masa sekarang. Selaras dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan sosial yang ada. Fungsi pendidikan Islam adalah sebagai upaya mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai (Ilahiyah dan insaniyah) dan sekaligus menumbuh kembangkannya dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan sosial yang ada.[4] 
Sedangkan tipologi rekonstruksi sosial lebih menonjolkan sikap proaktif dan antisipatifnya, sehingga tugas pendidikan adalah membantu agar manusia menjadi cakap dan selanjutnya mampu ikut bertanggung jawab terhadap pengembangan masyarakatnya. Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut, maka fungsi pendidikan Islam adalah sebagai upaya menumbuhkan kreatifitas peserta didik, memperkaya khazanah budaya manusia, memperkaya isi nilai-nilai insani dan Ilahi serta menyiapkan tenaga kerja produktif.

[1] Ibid,. hlm. 103.
[2] Ibid,. hlm. 103-104..
[3] Ibid..
[4] Ibid..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar