Jumat, 04 Oktober 2013

Integrasi keilmuan Islam sebagai upaya meretas pandangan dikotomik keilmuan Islam

A.    Latar Belakang
Filsafat menjadi induk segala ilmu pengetahuan yang berkembang sejak zaman yunani kuno sampai zaman modern sekarang.[1] Banyak ilmu yang dihasilkan melalui filsafat diantaranya ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu biologi dan ilmu yang lain. Hal inilah yang menjadikan filsafat selalu berhubungan dengan ilmu-ilmu modern saat ini. Melalui filsafat, bidang keilmuan seperti fisika, kimia, matematika dan kedokteran menjadi produknya.
Antara sains dan agama semestinya saling beriringan dalam kehidupan manusia dalam rangka menuju kepada kesejahteraan dan keselamatan. Sehingga dalam kemajuan yang pesat antara keduanya terdapat keharmonisan. Dimana antara nilai, moral dan kemanfaatan, kegunaan saling melengkapi sehingga menghasilkan kemaslahatan bagi manusia. Begitu juga penemuan-penemuan baru semestinya tidak bertentangan melainkan menjadi pendukung kebenaran agama.
Dalam sejarah peradaban manusia hubungan agama dan sains mengalami perkembangan dan pergolakan. Setiap ada penemuan baru dalam sains, selalu menimbulkan gejolak tertentu dalam masyarakat karena mereka belum memiliki perangkat baru untuk menyesuaikan diri dengan penemuan tersebut, sedangkan perangkat dan nilai-nilai lama belum siap untuk berubah. Benturan antara nilai-nilai baru dengan nilai-nilai lama tidak saja menimbulkan gejolak tetapi sekaligus kebingungan dan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.[2]
Sains yang bersumber dari barat yang sekuler dengan label modern. Dapat dimaklumi bahwa ilmu yang berkembang di barat adalah ilmu sekuler. Menjalarnya ilmu barat ke tengah-tengah ilmuwan muslim ini mengarah pada sekularisasi. Sekularisasi ini menyebabkan berpisahnya ilmu pengetahuan modern dari nilai-nilai spiritual, akhirnya dalam pandangan modern sains hanyalah sains. Sebagai material dan insidental yang dapat dieksploitasi tanpa adanya intervensi Tuhan. Persoalan lainnya dalam Islam ilmu diangap bersentuhan dengan nilai-nilai Ilahiah dan Tuhan sendiri sebagai sumber ilmu, Al-Qur’an telah memuat segala-galanya. Sehingga pengembangan dan penelitian yang terkait dengan ilmu terlalu berorientasi pada nilai-nilai religiusitas tanpa memandang pentingnya ilmu modern(umum). Menurut al-Faruqi secara bersamaan pula, system pendidikan Islam cenderung mempertahankan tradisi keilmuwan yang stagnan. Dalam pandangannya pendidikan Islam dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk, pertama sisten pendidikan tradisional yang senantiasa mempertahankan untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman secara sempit. Kedua system pendidikan yang mempertahankan keilmuwan modern dan mengadopsi Barat secara mentah-mentah. Ketiga system pendidikan konvergensif yang memadukan kedua system yang dimuka, selain memberikan pembelajaran agama juga memberikan disiplin ilmu modern. Tampaknya wujud dari sistem yang disebut pertama dapat dilihat dari lembaga pendidikan berupa pesantren. Kemudian bentuk dari system yang kedua ini adalah sekolah umum, sedangkan bagia ketiga seperti pesantren modern atau sekolah Islam terpadu.[3]
Pada lini pendidikan al-Faruqi menilai bahwa universitas Islam di dunia mengalami kekurangan tenaga dan staf kemudian ditinjau dari kurikulum pendidikan tidak satu pun universitas Islam yang layak menyandang predikat sebagai perguruan tinggi isalm ataupun mengklaim bahwa kurikulum ilmu sosialnya sudah Islami. Kondisi lain dari pengaruh sekularisasi adalah menjadikan ilmuwa-ilmuwan muslim kurang memperhatikan nilai-nilai Islam, bahkan kehilangan visi Islam itu sendiri. Puncak dari hal ini adalah terjadinya perceraian antara sains modern dengan nilai-nilai teologis.
Dari latar belakang masalah tersebut pemakalis dapat membuat makalah yang berjudul “MERETAS PROBLEM DIKOTOMIK KEILMUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM”
B.     Rumusan Masalah
1.         Bagaimana upaya meretas problem dikotomik keilmuan dalam pendidikan Islam?
2.         Bagaimana implikasi dari upaya tersebut dalam pendidikan?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui upaya meretas problem dikotomik keilmuan dalam pendidikan Islam
2.      Mengetahui implikasi dari upaya tersebut dalam pendidikan.
D.    Pembahasan
1. Konsep islamisasi ilmu pengetahuan al-Faruqi
Proses islamisasi (integrasi) ilmu pengetahuan merupakan kegiatan yang diawali dengan suatu pemikiran filosifis. Landasan filosofis yang dijadikan dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Pengintegrasian ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai ilahiah. Berdasarkan pada sumber ajaran Islam yakni Al-qur’an dan sunah, sehingga lahir ilmu modern yang islami.[4]
Berkenaan dengan proses islamisasi ilmu pengetahuan tersebut al-Faruqi beranjak dari pemikiran epestimologi Barat berbeda dengan Islam. Ia berusaha menawarkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar, ia meletakkan tauhid sebagai pndasi dengan pola lima kesatuan.
(1)   Keesaan Allah SWT.
(2)   Kesatuan makhluk.
(3)   Kesatuan kebenaran dan pengetahuan.
(4)   Kesatuan hidup.
(5)   Kesatuan  umat manusia.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut tujuan islamisasi diusahakan untuk dicapai, secara umum islamisasi pengetahuan al-Faruqi berusaha untuk memberikan respons positif terhadap realita yang berkembang, yakni ilmu pengetahuan modern(barat) yang sekuler, kemudian Islam yang cenderung mengekor. Islamisasi pengetahuan juga berusaha memandang secara objektif kelompok Islam yang terlalu religious dan menganggap syariah sebagai sesuatu yang final. Untuk selanjutnya islamisasi ini diarahkan untuk membangun kerangka pengetahuan baru yang komprehensif intergral tanpa pemisahan antara keduanya. Selanjutnya secara lebih rinci, dalam rumusan al-Faruqi tujuan islamisasi ilmu pengetahuan adalah:
(1)   Penguasaan disiplin ilmu modern
(2)   Penguasaan khazanah Islam
(3)   Membangun relevansi Islam bagi masing-masing bidang modern
(4)   Pencarian sintesis kreatif antara khazanah Islam dengan ilmu-ilmu modern
(5)   Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan untuk mencapai pemenuhan pola rencana Allah SWT.
Guna mewujudkan proyek islamisasi ilmu pengetahuan tersebut al-Faruqi menyusun 12 langkah strtegi yang secara kronologis harus ditempuh:
Langkah 1.penguasaan displin ilmu modern: penguasaan kategoris
Ilmu- ilmu modern dalam perkembangannya harus dipecah-pecah menjadi kategori-kategori, prinsip-prinsip, metodologi, problema dan tema-tema serta warnanya masing-masing. Penguraian ini nantinya harus mencerminkan muatan sebuah buku pegangan (buku daras) dalam bidang metodologi ilmu yang bersangkutan.[5]
Langkah 2. Survei disiplin ilmu
Pada bagian ini setiap disiplin ilmu harus disurvei dan ditulis dalam bentuk bagan skema, tentang asal usul perkembangan dan pertmbuhan metodologinya, keluasan cakrawala wawasan serta kontribusi pemikiran para tokoh utama ilmu tersebut.
Langkah 3. Penguasaan khazanah Islam: sebuah antologi
Langkah  ini menginginkan agar dilakukan pengkajian kembali sejauh mana khzanah Islam menyentuh dan mengkaji objek disiplin ilmu modern. Tujuannya agar Islam dapat menemukan kriteria relevansi di antara khazanah Barat dan Islam. Yakni sebagai titik tolak awal usaha untuk mengislamisasikan ilmu-ilmu modern. Jika tidak memerhatikan warisan tesebut, maka islamisasi akan miskin.
Langkah 4. Penguasaan khazanah ilmiah Islam, tahap analisis
Pada tahap ini diadakaan analisis khazanah Islam dengan latar belakang historis dan kaitannya dengan berbagai bidang kehidupan manusia. Diidentifikaskan dan diperjelas sesuai dengan keanekaragaman warna wawasan Islam itu sendiri.[6]
Langkah 5. Penetuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-displin ilmu
Dalam proses ini nantinya, hakikat ilmu modern, metodologinya, kemudian prinsip-prisip serta tujuan dan masalah-masalah disekitarnya maupun Harapan dan hasil yang dicapai diarahkan pada kerangka keilmuwan Islam. Terkait dengna relevansi khazanah Islam, harus dijabarkan secara proporsional dan logis. Dalam kerangka ini ada tiga persoalan yang harus dijawab. Pertama, Apa yang telah disumbangkan Islam, mulai dari Al-Qur’an  hinga kaum modernis masa kini, kepada keseluruhan persoalan yang menjadi kajian disiplin ilmu-ilmu modern? Kedua, seberapa besar sumbangan itu jika dibandingkan dengan hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu-ilmu Barat? Ketiga, sejauh mana tingkat pemenuhan, kekurangan serta kelebihan khazanah Islam dibandingkan dengan wawasan dan lingkup ilmu modern.[7]
Langkah 6. Penilaian kritis terhadap disiplin ilmu modern: tingkat perkembangan masa kini.
Dekripsi tentang ilu modern dan ilmu tradisional yang telah dikemukaan diatas, berkenaan dengan relevansi keduanya, mengarahkan kepada metodologi, prisip, tema, dan problem serta hasil-hasil yang dicapai. Selanjutnya dilakukan kririk yang kreatif terhadap keduanya  dilihat dari sudut pandang Islam.
Langkah 7. Penilain kritis terhadap khazanah Islam: Tingkat perkemangannya dewasa ini
Kritik dalam hal ini diarahkan pada interpretasi historis-kontektual manusia tentang keduanya bahkan harus selalu dikritik berdasarkan pada prinsip-prinsip dari kedua sumber pokok tesebut. Relevansi pemahaman tentang wahyu Ilahi pada beberapa aspek persoalan manusia harus dikritik dari  bebagai sudut peninjauan.
Langkah 8.Survei permasalahan yang dihadapi umat Islam
Tahap survei terhadap bebagai persoalan yang dihadapi umat Islam, terkait dengan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Untuk dapat mengidentifikasi secara keseluruhan, maka diperlukan survei empiris dan analis kritis secara komprehensif.
Langkah 9. Survei persoalan yang dihadapi umat manusia
Tanggung jawab Islam tidak hanya menyangkut persoalan kesejahteraan umat Islam, melainkan kesejahteraan seluruh umat manusia dengan segala keanekaragamannya. Amanah Allah SWT. Menyangkut seluruh alam semesta, manusia temasuk didalamnya konsekwensi dari ini adalah tanggung jawab manusia juga menyangkut persoalan manusia secara keseluruhan. Karena itu ilmuwan muslim harus berpatisipasi menghadapi problem kemanusiaan dan membuat solusi terbaik menuju  kesejahteraan, ke arah kemakmuran dan keadilan serta keluhuran sesuai dengan misi Islam.
Langkah 10. Analisis kreatif dan sintesis
mempertimbangkan kekuatan serta kelemahan masing-masing keilmuwan tersebut. Setelah ditetapkan relevansi keduanya, setelah dilakukan identifikasi persoalan yang dihadapi perrmasalahan umat Islam dan umat secara umum, maka tiba waktunya untuk melangkah pada tahap berikutnya berupa pikiran kreatif. Merambah jalan baru merebut kepemimpinan peradaban manusia.
Langkah 11. Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam: buku-buku daras tingkat unversitas
Pada tatanan operasional para pemikir Islam tidak akan mencapai kesepakatan terhadap penyelasaian suatu persoalan, memilih relevansi Islam terhadap eksistansi umat Islam masa kini dan masa yang akan datang. Keanekargaman analisis kritis yang dibuat ilmuwan modern yang islami agar kesadaran umat Islam menjadi lebih kaya dengan berbagai pertimbangan dan sasaran. [8]
Langkah 12. Penyebaran ilmu-illmu yang telah diislamisasikan
Kesia-siaan tersebut dapat dihilangkan dengan penyebaran karya-karya yang telah dilahirkan tersebut ke universitas-universitas atau perguruan tinggi Isalm.
2. Implikasi islamisasi dalam pendidikan.
2.1 Aspek Kelembagaan
Deskripsi yang lebih tegas islamisasi dalam aspek kelembagaan di maksud adalah penyatuan dua sistem pendidikan, yakni pendidikan islam(agama) dan sekuler umum. Artinya melakukan moderenisasi bagi lembaga pendidikan Agama dan islamisasi pendidikan sekuler. artinya apapun nama lembaga tersebut yang terpenting adalah terintegrasinya secara komprehensif antara sistem umum dan agama.
3.2 Aspek kurikulum
Rumusan kurikulum dalam islamisasi ilmu pengetahuan dengan memasukkan (integrasi) segala keilmuan dalam kurikulum yang actual, responsive terhadap tuntutan permasalahan kontemporer dan keilmuan islam.[9]
3.3 Aspek pendidik
Dalam hal ini para pendidik merupakan pendidik yang kompetensi dan professional, memenuhi kriteria akademis serta memiliki visi keislaman.
E.     Penutup
Upaya meretas problem dikotomik keilmuan dalam pendidikan islam yaitu dengan islamisasi ilmu pengetahuan (integrasi keilmuan barat dengan Islam) tidak lain adalah upaya mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologi, strategi dan data-data serta masalah-masalah. Tujuan-tujuan dan aspirasi ilmu. Dalam mewujudkan islamisasi melalui tahapan-tahapan tertentu. Implikasi islamisasi pada aspek lembaga yaitu dengan adanya penggabungan dua system pendidikan barat dan islam. pada aspek pendidik, yang dibutuhkan adalah professional dan memenuhi kriteria secara akademis dan memiliki integritas serta visi keislaman yang jelas. Sedangkan pada aspek kurikulum dengan cara integrasi keilmuwan harus berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan.







[1] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010),  hlm. 3.
[2] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 225.
[3] Al-Faruqi, “Islamization of Knowledge; Problem, Principle, and Perspective’ dalam Islam Sourch and Purpose of Knowledge”,dalam  Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 261.
[4] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm.
[5] Ibid., hlm.263
[6] Ibid., hlm. 265
[7] Ibid., hlm. 266.
[8] Ibid., hlm. 269.
[9] Ibid., hlm. 273.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar