Kamis, 31 Oktober 2013

Konsep pendidikan  (Islam) menurut Al-Attas
Antara studi Al-Quran dan modernisasi
Dengan berkembangnya peradaban dunia yang modern di semua aspek hal yang harus dilakukan adalah selalu mengkaji /menelaah kembali, mengkaji kembali Al-Quran dan hadis. Pengkajian yang dilakukan bermaksud mencari makna/maksud yang tepat tentang sesuatu/suatu hal dalam pandangan AL-Quran dan hadis. Dalam proses mengkaji metode yang digunakan adalah metode tafsir (teks)dan ta’wil (konteks). Tex : sebagai mana yang ada dalam teks Al-Quran/ tafsir Al-Quran. Sedangkan context :(setting, background, situation, framework, milieu,environment, perspective,circumstance) yang terdapat penjelasannya dalam Al-Quran dan hadis. Contexs disini mungkin juga mencakup asbabun-nuzul maupun asbabul wurud. Sehingga mengetahui arti /makna tentang sesuatu/ suatu hal secara tepat dan benar seperi apa yang dimaksudkan dalam Al-Quran dan hadis. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Naquib Al-Attas(najib al-attas), tentang pencarian konsep,arti, makna, manusia dalam Al-Quran dan Hadis: (sepemahaman yang saya dapat dari kuliah yang di sampaikan oleh DR. Fauzan Zenrif MPd.)
(pemahaman pribadi)Sama halnya ketika kita melakukat Ijtihad di masa modern ini, sebagaimana kita ketahui dari zaman khulafa’ al-rasyidin sampai saat ini, banyak ulama/ ilmuan muslim yang melakukan ijtihad dengan berbagai karya ilmu fiqihnya, ilmu ushul fiqqh nya dan ilmu yng lain-lain. Ketika saat ini teknologi maupun hal-hal modern telah muncul. Artinya para ulama/ilmuwan muslim saat ini ketika mencari hukum tentang sesuatu yang baru tidak bisa mengedepankan egoisme keilmuannya tanpa mengkaji karya-karya fiqih ulama terdahulu. Karena seperti yang kita ketahui ulama terdahulu juga menguasai AlQur’an maupun Hadis. Akan tetapi juga mempetimbangkan keilmiahan modern saat ini. Hal ini dilakukan karena lebih berhati-hati dalam mencari hukum suatu masalah dalam keagamaan.  

sisi lain budaya barat. saat ini dunia barat mencari ketenangan jiwa melalui psikologi-jiwa, mereka memahami tasawauf islam sebagai psikologi. Bila di dunia islam seorang muslim bisa menjadi tenang tentram jiwa mereka dengan menjalankan tasawuf keagamaan, melalui dzikir, sholat, membaca al-Quran. Masyarakat barat lebih memahami tasawuf sebagai psikologi (jiwa) tidak heran bila masyarakat barat melakukan hal-hal seperti telanjang di suatu tempat, atau bernyanyi sambil berjoged-joged, atau minum minuman keras sambil berjoged-joged. Mereka memahami ketenangan bisa mereka dapat ketika melakukan hal seperti itu. Tapi kenyataannya apakah mereka mendapatkan rasa ketenangan jiwa? Apakah seperti apa yang di dapat oleh umat islam dalam tasawuf,?

Minggu, 27 Oktober 2013

ARAH CONDONG : SEKILAS PERJALANAN SEJARAH ONTOLOGI ANTARA DUNIA BARAT DENGAN DUNIA TIMUR

Prof. Dr. Amsal Bahtiar, MA. Filsafat Ilmu (cet. 12. Jakarta: rajawali pers, 2012)
ONTOLOGI : bagian dan cara pandang FILSAFAT
inti ontologi adalah menerangkan hakikat dari segala yang ada. 
Hakikat adalah realitas; realita / ke- Real-an
Real artinya kenyataan yang sebenarnya
jadi hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.
Ahmad Tafsir mencontohkan tentang hakikat makna demokrasi  dan fatamorgana. pada hakikatnya pemerintah demokratis menghargai pendapat rakyat. mungkin orang pernah menyaksikan pemerintahan itu melakukan tindakan sewenang-wenang tidak menghargai pendapat rakyat itu hanyalah keadaan sementara, bukan hakiki, yang hakiki pemerintahan itu demokrtais.
Rudolf Goclenicus pada tahun 1636 membagi metafisika menjadi dua, yaitu: metafisika umum dan metafisika khusus
metafisika umum/ ontologi adalah caban filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. sedangkan metafisika khusus  dibagi menjadi Kosmologi, Psikologi, dan Teologi kosmologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan  tentang alam semesta. Psikologi cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia. Teologi cabang filsafat yang secara khusus  membicarakan Tuhan.(Paul Edward dalam Amsal bakhtiar. Filsafat Ilmu. hlm. 135. Jakarta: Rajawali Pers. cet. 12. 2012. )
dalam sejarah perkembangannya dunia timur (khususnya Islam) lebih mengembangkan filsafat ontologi metafisika Teologi. sehingga rata-rata menghasilkan/mempunyai karya-karya filsafat keagamaan. mulai dari ibnu rusdi-ibnu sina-sampai al-ghozali dengan tahafut al-falasifah sebagai penyeimbang kefilsafatan ilmuwan muslim. sebagaimana yang kita ketahui banyak ilmuwan muslim yang karya filsafatnya lebih banyak dan mendalam membahas filsafat Teologi.
sedangkan dunia barat(ilmuwan barat) lebih banyak dan mendalam filsafat ontologi metafisika Kosmologi dan Psikologi. sehingga dunia barat lebih banyak dan mendalam menghasilkan karya-karya filsafat tentang materi yang bisa di indera yang pada akhirnya menghasilkan banyak ilmu pengetahuan tentang hal-hal yang bersifat materi.
dari perbedaan fokus filsafat ontologi antara dunia Timur dengan barat itulah diperkirakan menjadi sebab kemunduran dunia Islam di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan akan tetapi dunia Islam mempunyai kelebihan pengetahuan tentang ilmu-ilmu agama. sebaliknya dunia barat mempunyai kelebihan dan kemajuan dibidang ilmu pengetahuan/ sains, teknologi di segala bidang. yang saat ini berkembang sampai adanya dunia maya/dunia internet.
mulai pada abad sekitar 19 hingga saat ini dunia islam terperangah/kaget ketika mengetahuai kemajuan ilmu dan teknologi yang dihasilkan oleh ilmuwan barat. dan saat itulah ilmuwan muslim mulai mengejar ketertinggalan keilmuan itu. sebaliknya dunia barat yang lebih mementingkan materi, sekular, liberal ternyata jiwa masyarakat barat disadari maupun tidak disadari mengalami tekanan batin/jiwa yang mebuat stres dan hampa akan sandaran hati mereka. apalagi khususnya bagi mereka yang menjadi korban kemajuan teknologi dan tuntutan hidup maupun pandangan hidup mereka.
dari sini kita menyadari akan pentingnya keseimbangan antara Dunia dan Akhirat, Dunyawi dan Ukhrawi.

http://gieekazone.blogspot.com/2012/10/ontologi-metafisika-asumsi-dan-peluang.html
Dalam memahami metafisika umum (ontologi) ada beberapa aliran/ pandangan pokok pikiran yaitu :
1. Aliran Monoisme
            Paham monoisme menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluroh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi maupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Paham monoisme kemudian dibagi menjadi 2 aliran yaitu aliran materialisme dan aliran idealisme.
            Aliran materialisme menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut sebagai naturalisme, menurutnya zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya cara tertentu. Sedangkan aliran idealisme disebut juga spiritualisme berarti serba roh/“idea” yang berarti sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beranekaragam ini semua berasal dari roh, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Materi/zat itu hanyalah suatu jenis dari penjelmaan rohani.
Beberapa tokoh yang tergolong pada aliran materialisme adalah Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Sementara tokoh aliran idealisme adalah Plato.
2. Aliran Dualisme
Aliran ini mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Menurut aliran dualisme materi maupun roh sama-sama merupakan hakikat. Materi muncul bukan karena adanya roh, begitupun roh muncul buka karena materi.
            Aliran dualisme memandang bahwa alam terdiri dari 2 macam hakikat sebagai sumbernya. Aliran dualisme merupakan paham yang serba dua, yaitu antara materi (hule) dan bentuk (eidos). Pengertian materi dalam aliran ini berbeda dengan pengertian materi yan dipahami saat ini. Menurut Aristoteles, materi adalah dasar terakhir segala perubahan dari hal-hal yang berdiri sendiri dan unsur bersama yang terdapat di dalam segala sesuatu yang menjadi dan binasa. Materi dalam arti mutlak adalah asas atau lapisan bawah yang paling akhir dan umum. Tiap benda yang dapat diamati disusun dari materi. Oleh karena itu materi mutlak diperlukan bagi pembentukan segala sesuatu. Di lain pihak, dapat dijelaskan bahwa materi adalah kenyataan yang belum terwujud, yang belum ditentukan, tetapi yang memiliki potensi, bakat untuk menjadi terwujud/menjadi ditentukan oleh bentuk. Padanya ada kemungkinan untuk menjadi nyata, karena kekuatan yang membentuknya.
            Sedangkan bentuk (eidos) adalah pola segala sesuatu yang tempatnya di luar dunia ini, yang berdiri sendiri, lepas dari benda yang konkret, yang adalah penerapannya. Bagi Aristoteles,eidos adalah asa yang berada di dalam benda yang konkret, yang secara sempurna menentukan jenis benda itu, yang menjadikan benda yang konkret itu demikian (misalnya disebut meja,kursi, dll). Jadi, segala pengertian yang ada pada manusia bukanlah sesuai dengan realitas ide, melainkan sesuai dengan jenis benda yang tampak pada benda konkret.
Demikianlah, materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan. Materi tidak dapat terwujud tanpa bentuk, sebaliknya bentuk tidak dapat berada tanpa materi. Tiap benda yang diamati disusun dari bentuk dan materi.
3. Aliran Pluralisme
            Aliran ini beranggapan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua identitas.
4. Aliran Nihilisme
            Aliran ini berpendapat dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Aliran ini tidak mengakui validitas alternatif positif. Dalam pandangan nihilisme, Tuhan sudah mati. Manusia bebas berkehendak dan berkreativitas.
5. Aliran Agnotisisme
            Menurut aliran ini manusia tidak mungkin mengetahui hakikat sesuatu di balik kenyataannya, sebab kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu akan hakikat semua yang ada, baik oleh inderanya ataupun pikirannya. Paham agnotisisme mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat rohani. (download dari: http://gieekazone.blogspot.com/2012/10/ontologi-metafisika-asumsi-dan-peluang.html)

Sabtu, 05 Oktober 2013

belajar sedikit ilmu Nahwu

Bab Badal dalam kitab Al-jurumiyah
terj.M. sholihuddin sofwan. 1999. Mabadi An-Nahwiyah, pengantar memahami Al-Jurumiyah.jombang: Darul Hikmah.
Badal yaitu lafadz yang mengikuti (tabi') yang dimaksud dengan hukum, tanpa perantaraan (huruf athof) diantara tabi' dan matbu'nya.(muhtasor jiddan)
"Kalimah isim yang dijadikan badal dari mubdal minhu(lafadz yang diganti) yang berupa isim, atau kalimah fiil yang dijadikan badal dari mubdal minhu yang berupa fiil, maka harus mengikuti dalam seluruh i'robnya. badal dibagi menjadi 4, yaitu: badal syaik min syaik,. badal ba'dlu min kul,. badal isytimal,. dan badal gholad seperti ucapanmu: qama zaidun akhuka قام زيد أخوك
أخوك: sebagai badal,  زيد: sebagai lafadz yang diganti (mubdal minhu). 

Jumat, 04 Oktober 2013

Integrasi keilmuan Islam sebagai upaya meretas pandangan dikotomik keilmuan Islam

A.    Latar Belakang
Filsafat menjadi induk segala ilmu pengetahuan yang berkembang sejak zaman yunani kuno sampai zaman modern sekarang.[1] Banyak ilmu yang dihasilkan melalui filsafat diantaranya ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu biologi dan ilmu yang lain. Hal inilah yang menjadikan filsafat selalu berhubungan dengan ilmu-ilmu modern saat ini. Melalui filsafat, bidang keilmuan seperti fisika, kimia, matematika dan kedokteran menjadi produknya.
Antara sains dan agama semestinya saling beriringan dalam kehidupan manusia dalam rangka menuju kepada kesejahteraan dan keselamatan. Sehingga dalam kemajuan yang pesat antara keduanya terdapat keharmonisan. Dimana antara nilai, moral dan kemanfaatan, kegunaan saling melengkapi sehingga menghasilkan kemaslahatan bagi manusia. Begitu juga penemuan-penemuan baru semestinya tidak bertentangan melainkan menjadi pendukung kebenaran agama.
Dalam sejarah peradaban manusia hubungan agama dan sains mengalami perkembangan dan pergolakan. Setiap ada penemuan baru dalam sains, selalu menimbulkan gejolak tertentu dalam masyarakat karena mereka belum memiliki perangkat baru untuk menyesuaikan diri dengan penemuan tersebut, sedangkan perangkat dan nilai-nilai lama belum siap untuk berubah. Benturan antara nilai-nilai baru dengan nilai-nilai lama tidak saja menimbulkan gejolak tetapi sekaligus kebingungan dan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.[2]
Sains yang bersumber dari barat yang sekuler dengan label modern. Dapat dimaklumi bahwa ilmu yang berkembang di barat adalah ilmu sekuler. Menjalarnya ilmu barat ke tengah-tengah ilmuwan muslim ini mengarah pada sekularisasi. Sekularisasi ini menyebabkan berpisahnya ilmu pengetahuan modern dari nilai-nilai spiritual, akhirnya dalam pandangan modern sains hanyalah sains. Sebagai material dan insidental yang dapat dieksploitasi tanpa adanya intervensi Tuhan. Persoalan lainnya dalam Islam ilmu diangap bersentuhan dengan nilai-nilai Ilahiah dan Tuhan sendiri sebagai sumber ilmu, Al-Qur’an telah memuat segala-galanya. Sehingga pengembangan dan penelitian yang terkait dengan ilmu terlalu berorientasi pada nilai-nilai religiusitas tanpa memandang pentingnya ilmu modern(umum). Menurut al-Faruqi secara bersamaan pula, system pendidikan Islam cenderung mempertahankan tradisi keilmuwan yang stagnan. Dalam pandangannya pendidikan Islam dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk, pertama sisten pendidikan tradisional yang senantiasa mempertahankan untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman secara sempit. Kedua system pendidikan yang mempertahankan keilmuwan modern dan mengadopsi Barat secara mentah-mentah. Ketiga system pendidikan konvergensif yang memadukan kedua system yang dimuka, selain memberikan pembelajaran agama juga memberikan disiplin ilmu modern. Tampaknya wujud dari sistem yang disebut pertama dapat dilihat dari lembaga pendidikan berupa pesantren. Kemudian bentuk dari system yang kedua ini adalah sekolah umum, sedangkan bagia ketiga seperti pesantren modern atau sekolah Islam terpadu.[3]
Pada lini pendidikan al-Faruqi menilai bahwa universitas Islam di dunia mengalami kekurangan tenaga dan staf kemudian ditinjau dari kurikulum pendidikan tidak satu pun universitas Islam yang layak menyandang predikat sebagai perguruan tinggi isalm ataupun mengklaim bahwa kurikulum ilmu sosialnya sudah Islami. Kondisi lain dari pengaruh sekularisasi adalah menjadikan ilmuwa-ilmuwan muslim kurang memperhatikan nilai-nilai Islam, bahkan kehilangan visi Islam itu sendiri. Puncak dari hal ini adalah terjadinya perceraian antara sains modern dengan nilai-nilai teologis.
Dari latar belakang masalah tersebut pemakalis dapat membuat makalah yang berjudul “MERETAS PROBLEM DIKOTOMIK KEILMUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM”
B.     Rumusan Masalah
1.         Bagaimana upaya meretas problem dikotomik keilmuan dalam pendidikan Islam?
2.         Bagaimana implikasi dari upaya tersebut dalam pendidikan?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui upaya meretas problem dikotomik keilmuan dalam pendidikan Islam
2.      Mengetahui implikasi dari upaya tersebut dalam pendidikan.
D.    Pembahasan
1. Konsep islamisasi ilmu pengetahuan al-Faruqi
Proses islamisasi (integrasi) ilmu pengetahuan merupakan kegiatan yang diawali dengan suatu pemikiran filosifis. Landasan filosofis yang dijadikan dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Pengintegrasian ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai ilahiah. Berdasarkan pada sumber ajaran Islam yakni Al-qur’an dan sunah, sehingga lahir ilmu modern yang islami.[4]
Berkenaan dengan proses islamisasi ilmu pengetahuan tersebut al-Faruqi beranjak dari pemikiran epestimologi Barat berbeda dengan Islam. Ia berusaha menawarkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar, ia meletakkan tauhid sebagai pndasi dengan pola lima kesatuan.
(1)   Keesaan Allah SWT.
(2)   Kesatuan makhluk.
(3)   Kesatuan kebenaran dan pengetahuan.
(4)   Kesatuan hidup.
(5)   Kesatuan  umat manusia.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut tujuan islamisasi diusahakan untuk dicapai, secara umum islamisasi pengetahuan al-Faruqi berusaha untuk memberikan respons positif terhadap realita yang berkembang, yakni ilmu pengetahuan modern(barat) yang sekuler, kemudian Islam yang cenderung mengekor. Islamisasi pengetahuan juga berusaha memandang secara objektif kelompok Islam yang terlalu religious dan menganggap syariah sebagai sesuatu yang final. Untuk selanjutnya islamisasi ini diarahkan untuk membangun kerangka pengetahuan baru yang komprehensif intergral tanpa pemisahan antara keduanya. Selanjutnya secara lebih rinci, dalam rumusan al-Faruqi tujuan islamisasi ilmu pengetahuan adalah:
(1)   Penguasaan disiplin ilmu modern
(2)   Penguasaan khazanah Islam
(3)   Membangun relevansi Islam bagi masing-masing bidang modern
(4)   Pencarian sintesis kreatif antara khazanah Islam dengan ilmu-ilmu modern
(5)   Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan untuk mencapai pemenuhan pola rencana Allah SWT.
Guna mewujudkan proyek islamisasi ilmu pengetahuan tersebut al-Faruqi menyusun 12 langkah strtegi yang secara kronologis harus ditempuh:
Langkah 1.penguasaan displin ilmu modern: penguasaan kategoris
Ilmu- ilmu modern dalam perkembangannya harus dipecah-pecah menjadi kategori-kategori, prinsip-prinsip, metodologi, problema dan tema-tema serta warnanya masing-masing. Penguraian ini nantinya harus mencerminkan muatan sebuah buku pegangan (buku daras) dalam bidang metodologi ilmu yang bersangkutan.[5]
Langkah 2. Survei disiplin ilmu
Pada bagian ini setiap disiplin ilmu harus disurvei dan ditulis dalam bentuk bagan skema, tentang asal usul perkembangan dan pertmbuhan metodologinya, keluasan cakrawala wawasan serta kontribusi pemikiran para tokoh utama ilmu tersebut.
Langkah 3. Penguasaan khazanah Islam: sebuah antologi
Langkah  ini menginginkan agar dilakukan pengkajian kembali sejauh mana khzanah Islam menyentuh dan mengkaji objek disiplin ilmu modern. Tujuannya agar Islam dapat menemukan kriteria relevansi di antara khazanah Barat dan Islam. Yakni sebagai titik tolak awal usaha untuk mengislamisasikan ilmu-ilmu modern. Jika tidak memerhatikan warisan tesebut, maka islamisasi akan miskin.
Langkah 4. Penguasaan khazanah ilmiah Islam, tahap analisis
Pada tahap ini diadakaan analisis khazanah Islam dengan latar belakang historis dan kaitannya dengan berbagai bidang kehidupan manusia. Diidentifikaskan dan diperjelas sesuai dengan keanekaragaman warna wawasan Islam itu sendiri.[6]
Langkah 5. Penetuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-displin ilmu
Dalam proses ini nantinya, hakikat ilmu modern, metodologinya, kemudian prinsip-prisip serta tujuan dan masalah-masalah disekitarnya maupun Harapan dan hasil yang dicapai diarahkan pada kerangka keilmuwan Islam. Terkait dengna relevansi khazanah Islam, harus dijabarkan secara proporsional dan logis. Dalam kerangka ini ada tiga persoalan yang harus dijawab. Pertama, Apa yang telah disumbangkan Islam, mulai dari Al-Qur’an  hinga kaum modernis masa kini, kepada keseluruhan persoalan yang menjadi kajian disiplin ilmu-ilmu modern? Kedua, seberapa besar sumbangan itu jika dibandingkan dengan hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu-ilmu Barat? Ketiga, sejauh mana tingkat pemenuhan, kekurangan serta kelebihan khazanah Islam dibandingkan dengan wawasan dan lingkup ilmu modern.[7]
Langkah 6. Penilaian kritis terhadap disiplin ilmu modern: tingkat perkembangan masa kini.
Dekripsi tentang ilu modern dan ilmu tradisional yang telah dikemukaan diatas, berkenaan dengan relevansi keduanya, mengarahkan kepada metodologi, prisip, tema, dan problem serta hasil-hasil yang dicapai. Selanjutnya dilakukan kririk yang kreatif terhadap keduanya  dilihat dari sudut pandang Islam.
Langkah 7. Penilain kritis terhadap khazanah Islam: Tingkat perkemangannya dewasa ini
Kritik dalam hal ini diarahkan pada interpretasi historis-kontektual manusia tentang keduanya bahkan harus selalu dikritik berdasarkan pada prinsip-prinsip dari kedua sumber pokok tesebut. Relevansi pemahaman tentang wahyu Ilahi pada beberapa aspek persoalan manusia harus dikritik dari  bebagai sudut peninjauan.
Langkah 8.Survei permasalahan yang dihadapi umat Islam
Tahap survei terhadap bebagai persoalan yang dihadapi umat Islam, terkait dengan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Untuk dapat mengidentifikasi secara keseluruhan, maka diperlukan survei empiris dan analis kritis secara komprehensif.
Langkah 9. Survei persoalan yang dihadapi umat manusia
Tanggung jawab Islam tidak hanya menyangkut persoalan kesejahteraan umat Islam, melainkan kesejahteraan seluruh umat manusia dengan segala keanekaragamannya. Amanah Allah SWT. Menyangkut seluruh alam semesta, manusia temasuk didalamnya konsekwensi dari ini adalah tanggung jawab manusia juga menyangkut persoalan manusia secara keseluruhan. Karena itu ilmuwan muslim harus berpatisipasi menghadapi problem kemanusiaan dan membuat solusi terbaik menuju  kesejahteraan, ke arah kemakmuran dan keadilan serta keluhuran sesuai dengan misi Islam.
Langkah 10. Analisis kreatif dan sintesis
mempertimbangkan kekuatan serta kelemahan masing-masing keilmuwan tersebut. Setelah ditetapkan relevansi keduanya, setelah dilakukan identifikasi persoalan yang dihadapi perrmasalahan umat Islam dan umat secara umum, maka tiba waktunya untuk melangkah pada tahap berikutnya berupa pikiran kreatif. Merambah jalan baru merebut kepemimpinan peradaban manusia.
Langkah 11. Penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam: buku-buku daras tingkat unversitas
Pada tatanan operasional para pemikir Islam tidak akan mencapai kesepakatan terhadap penyelasaian suatu persoalan, memilih relevansi Islam terhadap eksistansi umat Islam masa kini dan masa yang akan datang. Keanekargaman analisis kritis yang dibuat ilmuwan modern yang islami agar kesadaran umat Islam menjadi lebih kaya dengan berbagai pertimbangan dan sasaran. [8]
Langkah 12. Penyebaran ilmu-illmu yang telah diislamisasikan
Kesia-siaan tersebut dapat dihilangkan dengan penyebaran karya-karya yang telah dilahirkan tersebut ke universitas-universitas atau perguruan tinggi Isalm.
2. Implikasi islamisasi dalam pendidikan.
2.1 Aspek Kelembagaan
Deskripsi yang lebih tegas islamisasi dalam aspek kelembagaan di maksud adalah penyatuan dua sistem pendidikan, yakni pendidikan islam(agama) dan sekuler umum. Artinya melakukan moderenisasi bagi lembaga pendidikan Agama dan islamisasi pendidikan sekuler. artinya apapun nama lembaga tersebut yang terpenting adalah terintegrasinya secara komprehensif antara sistem umum dan agama.
3.2 Aspek kurikulum
Rumusan kurikulum dalam islamisasi ilmu pengetahuan dengan memasukkan (integrasi) segala keilmuan dalam kurikulum yang actual, responsive terhadap tuntutan permasalahan kontemporer dan keilmuan islam.[9]
3.3 Aspek pendidik
Dalam hal ini para pendidik merupakan pendidik yang kompetensi dan professional, memenuhi kriteria akademis serta memiliki visi keislaman.
E.     Penutup
Upaya meretas problem dikotomik keilmuan dalam pendidikan islam yaitu dengan islamisasi ilmu pengetahuan (integrasi keilmuan barat dengan Islam) tidak lain adalah upaya mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologi, strategi dan data-data serta masalah-masalah. Tujuan-tujuan dan aspirasi ilmu. Dalam mewujudkan islamisasi melalui tahapan-tahapan tertentu. Implikasi islamisasi pada aspek lembaga yaitu dengan adanya penggabungan dua system pendidikan barat dan islam. pada aspek pendidik, yang dibutuhkan adalah professional dan memenuhi kriteria secara akademis dan memiliki integritas serta visi keislaman yang jelas. Sedangkan pada aspek kurikulum dengan cara integrasi keilmuwan harus berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan.







[1] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010),  hlm. 3.
[2] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 225.
[3] Al-Faruqi, “Islamization of Knowledge; Problem, Principle, and Perspective’ dalam Islam Sourch and Purpose of Knowledge”,dalam  Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 261.
[4] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm.
[5] Ibid., hlm.263
[6] Ibid., hlm. 265
[7] Ibid., hlm. 266.
[8] Ibid., hlm. 269.
[9] Ibid., hlm. 273.