inti ontologi adalah menerangkan hakikat dari segala yang ada.
Hakikat adalah realitas; realita / ke- Real-an
Real artinya kenyataan yang sebenarnya
jadi hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.
Ahmad Tafsir mencontohkan tentang hakikat makna demokrasi dan fatamorgana. pada hakikatnya pemerintah demokratis menghargai pendapat rakyat. mungkin orang pernah menyaksikan pemerintahan itu melakukan tindakan sewenang-wenang tidak menghargai pendapat rakyat itu hanyalah keadaan sementara, bukan hakiki, yang hakiki pemerintahan itu demokrtais.
Rudolf Goclenicus pada tahun 1636 membagi metafisika menjadi dua, yaitu: metafisika umum dan metafisika khusus
metafisika umum/ ontologi adalah caban filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. sedangkan metafisika khusus dibagi menjadi Kosmologi, Psikologi, dan Teologi kosmologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta. Psikologi cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia. Teologi cabang filsafat yang secara khusus membicarakan Tuhan.(Paul Edward dalam Amsal bakhtiar. Filsafat Ilmu. hlm. 135. Jakarta: Rajawali Pers. cet. 12. 2012. )
dalam sejarah perkembangannya dunia timur (khususnya Islam) lebih mengembangkan filsafat ontologi metafisika Teologi. sehingga rata-rata menghasilkan/mempunyai karya-karya filsafat keagamaan. mulai dari ibnu rusdi-ibnu sina-sampai al-ghozali dengan tahafut al-falasifah sebagai penyeimbang kefilsafatan ilmuwan muslim. sebagaimana yang kita ketahui banyak ilmuwan muslim yang karya filsafatnya lebih banyak dan mendalam membahas filsafat Teologi.
sedangkan dunia barat(ilmuwan barat) lebih banyak dan mendalam filsafat ontologi metafisika Kosmologi dan Psikologi. sehingga dunia barat lebih banyak dan mendalam menghasilkan karya-karya filsafat tentang materi yang bisa di indera yang pada akhirnya menghasilkan banyak ilmu pengetahuan tentang hal-hal yang bersifat materi.
dari perbedaan fokus filsafat ontologi antara dunia Timur dengan barat itulah diperkirakan menjadi sebab kemunduran dunia Islam di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan akan tetapi dunia Islam mempunyai kelebihan pengetahuan tentang ilmu-ilmu agama. sebaliknya dunia barat mempunyai kelebihan dan kemajuan dibidang ilmu pengetahuan/ sains, teknologi di segala bidang. yang saat ini berkembang sampai adanya dunia maya/dunia internet.
mulai pada abad sekitar 19 hingga saat ini dunia islam terperangah/kaget ketika mengetahuai kemajuan ilmu dan teknologi yang dihasilkan oleh ilmuwan barat. dan saat itulah ilmuwan muslim mulai mengejar ketertinggalan keilmuan itu. sebaliknya dunia barat yang lebih mementingkan materi, sekular, liberal ternyata jiwa masyarakat barat disadari maupun tidak disadari mengalami tekanan batin/jiwa yang mebuat stres dan hampa akan sandaran hati mereka. apalagi khususnya bagi mereka yang menjadi korban kemajuan teknologi dan tuntutan hidup maupun pandangan hidup mereka.
dari sini kita menyadari akan pentingnya keseimbangan antara Dunia dan Akhirat, Dunyawi dan Ukhrawi.
http://gieekazone.blogspot.com/2012/10/ontologi-metafisika-asumsi-dan-peluang.html
Rudolf Goclenicus pada tahun 1636 membagi metafisika menjadi dua, yaitu: metafisika umum dan metafisika khusus
metafisika umum/ ontologi adalah caban filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. sedangkan metafisika khusus dibagi menjadi Kosmologi, Psikologi, dan Teologi kosmologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta. Psikologi cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia. Teologi cabang filsafat yang secara khusus membicarakan Tuhan.(Paul Edward dalam Amsal bakhtiar. Filsafat Ilmu. hlm. 135. Jakarta: Rajawali Pers. cet. 12. 2012. )
dalam sejarah perkembangannya dunia timur (khususnya Islam) lebih mengembangkan filsafat ontologi metafisika Teologi. sehingga rata-rata menghasilkan/mempunyai karya-karya filsafat keagamaan. mulai dari ibnu rusdi-ibnu sina-sampai al-ghozali dengan tahafut al-falasifah sebagai penyeimbang kefilsafatan ilmuwan muslim. sebagaimana yang kita ketahui banyak ilmuwan muslim yang karya filsafatnya lebih banyak dan mendalam membahas filsafat Teologi.
sedangkan dunia barat(ilmuwan barat) lebih banyak dan mendalam filsafat ontologi metafisika Kosmologi dan Psikologi. sehingga dunia barat lebih banyak dan mendalam menghasilkan karya-karya filsafat tentang materi yang bisa di indera yang pada akhirnya menghasilkan banyak ilmu pengetahuan tentang hal-hal yang bersifat materi.
dari perbedaan fokus filsafat ontologi antara dunia Timur dengan barat itulah diperkirakan menjadi sebab kemunduran dunia Islam di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan akan tetapi dunia Islam mempunyai kelebihan pengetahuan tentang ilmu-ilmu agama. sebaliknya dunia barat mempunyai kelebihan dan kemajuan dibidang ilmu pengetahuan/ sains, teknologi di segala bidang. yang saat ini berkembang sampai adanya dunia maya/dunia internet.
mulai pada abad sekitar 19 hingga saat ini dunia islam terperangah/kaget ketika mengetahuai kemajuan ilmu dan teknologi yang dihasilkan oleh ilmuwan barat. dan saat itulah ilmuwan muslim mulai mengejar ketertinggalan keilmuan itu. sebaliknya dunia barat yang lebih mementingkan materi, sekular, liberal ternyata jiwa masyarakat barat disadari maupun tidak disadari mengalami tekanan batin/jiwa yang mebuat stres dan hampa akan sandaran hati mereka. apalagi khususnya bagi mereka yang menjadi korban kemajuan teknologi dan tuntutan hidup maupun pandangan hidup mereka.
dari sini kita menyadari akan pentingnya keseimbangan antara Dunia dan Akhirat, Dunyawi dan Ukhrawi.
http://gieekazone.blogspot.com/2012/10/ontologi-metafisika-asumsi-dan-peluang.html
Dalam memahami metafisika umum (ontologi) ada beberapa aliran/ pandangan pokok pikiran yaitu :
1. Aliran Monoisme
Paham monoisme menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluroh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi maupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Paham monoisme kemudian dibagi menjadi 2 aliran yaitu aliran materialisme dan aliran idealisme.
Aliran materialisme menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut sebagai naturalisme, menurutnya zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya cara tertentu. Sedangkan aliran idealisme disebut juga spiritualisme berarti serba roh/“idea” yang berarti sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beranekaragam ini semua berasal dari roh, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Materi/zat itu hanyalah suatu jenis dari penjelmaan rohani.
Beberapa tokoh yang tergolong pada aliran materialisme adalah Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Sementara tokoh aliran idealisme adalah Plato.
2. Aliran Dualisme
Aliran ini mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Menurut aliran dualisme materi maupun roh sama-sama merupakan hakikat. Materi muncul bukan karena adanya roh, begitupun roh muncul buka karena materi.
Aliran dualisme memandang bahwa alam terdiri dari 2 macam hakikat sebagai sumbernya. Aliran dualisme merupakan paham yang serba dua, yaitu antara materi (hule) dan bentuk (eidos). Pengertian materi dalam aliran ini berbeda dengan pengertian materi yan dipahami saat ini. Menurut Aristoteles, materi adalah dasar terakhir segala perubahan dari hal-hal yang berdiri sendiri dan unsur bersama yang terdapat di dalam segala sesuatu yang menjadi dan binasa. Materi dalam arti mutlak adalah asas atau lapisan bawah yang paling akhir dan umum. Tiap benda yang dapat diamati disusun dari materi. Oleh karena itu materi mutlak diperlukan bagi pembentukan segala sesuatu. Di lain pihak, dapat dijelaskan bahwa materi adalah kenyataan yang belum terwujud, yang belum ditentukan, tetapi yang memiliki potensi, bakat untuk menjadi terwujud/menjadi ditentukan oleh bentuk. Padanya ada kemungkinan untuk menjadi nyata, karena kekuatan yang membentuknya.
Sedangkan bentuk (eidos) adalah pola segala sesuatu yang tempatnya di luar dunia ini, yang berdiri sendiri, lepas dari benda yang konkret, yang adalah penerapannya. Bagi Aristoteles,eidos adalah asa yang berada di dalam benda yang konkret, yang secara sempurna menentukan jenis benda itu, yang menjadikan benda yang konkret itu demikian (misalnya disebut meja,kursi, dll). Jadi, segala pengertian yang ada pada manusia bukanlah sesuai dengan realitas ide, melainkan sesuai dengan jenis benda yang tampak pada benda konkret.
Demikianlah, materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan. Materi tidak dapat terwujud tanpa bentuk, sebaliknya bentuk tidak dapat berada tanpa materi. Tiap benda yang diamati disusun dari bentuk dan materi.
3. Aliran Pluralisme
Aliran ini beranggapan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua identitas.
4. Aliran Nihilisme
Aliran ini berpendapat dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Aliran ini tidak mengakui validitas alternatif positif. Dalam pandangan nihilisme, Tuhan sudah mati. Manusia bebas berkehendak dan berkreativitas.
5. Aliran Agnotisisme
Menurut aliran ini manusia tidak mungkin mengetahui hakikat sesuatu di balik kenyataannya, sebab kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu akan hakikat semua yang ada, baik oleh inderanya ataupun pikirannya. Paham agnotisisme mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat rohani. (download dari: http://gieekazone.blogspot.com/2012/10/ontologi-metafisika-asumsi-dan-peluang.html)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar